Archive for the Keuangan Category

Tips Mengurangi Pengeluaran Bulanan

Posted in Keuangan on 13 April 2009 by tigerhungry

Dampak dari krisis keuangan global yang terjadi saat ini mungkin belum terasa secara langsung dalam kehidupan kita. Namun, ada baiknya kita mulai bijaksana dalam mengelola keuangan, agar kita tidak panik saat pengaruh krisis tersebut mulai kita rasakan. Misalnya, bila perampingan karyawan di kantor suami yang semula hanya merupakan desas-desus akhirnya menjadi kenyataan. Atau, berbagai tunjangan di kantor yang mulai dikurangi akibat menurunnya keuntungan perusahaan. Belum lagi harga-harga yang cenderung naik, yang akhirnya membuat kita tersadar: ternyata hal ini tak cuma dirasakan golongan dengan ekonomi lemah.

Banyak hal yang sebenarnya dapat kita lakukan untuk mulai lebih cermat dalam mengatur pengeluaran. Coba lihat catatan pengeluaran Anda setiap bulan. Adakah yang dapat dikurangi atau bahkan dihapuskan? Bila salah satu pengeluaran dihapuskan, besarkah pengaruhnya untuk kesehatan keuangan Anda secara keseluruhan? Adakah suatu “kemewahan” dalam gaya hidup Anda yang bisa sedikit dikurangi? Ini yang mungkin dapat Anda pertimbangkan:

Batasi makan di luar rumah. Biasanya Anda tak pernah berpikir dua kali saat memutuskan makan malam atau ngopi-ngopi di mal sepulang kantor. Namun bila Anda mulai merasakan tambahan biaya saat harga-harga naik, pikirkan kembali hal ini. Anda bisa memilih makan di luar pada hari Jumat, atau pada hari Sabtu-Minggu saja. Anda akan sangat menghemat pengeluaran. Bila perlu, bawa sendiri makan siang untuk di kantor.

Hitung lagi pengeluaran untuk komunikasi. Untuk apa mengambil paket BlackBerry yang Rp 250.000,- atau unlimited? Pilih saja yang paling murah, Rp 150.000,-, lalu sering-seringlah nongkrong di area hotspot. Di saat yang sama, batasi ngobrol melalui ponsel. Bila Anda juga menggunakan kartu CDMA, jangan hanya menggunakannya untuk menelepon ke sesama operator (jika pulsanya hemat, bukankah sisanya masih banyak?).

Kurangi pengeluaran untuk majalah. Anda mungkin senang membeli majalah-majalah fashion atau lifestyle, baik lokal maupun asing. Bila ingin bijaksana, langganan saja salah satunya, dan hindari membeli setiap edisi majalah lain yang Anda anggap menarik isinya. Seringkali Anda juga membeli majalah hanya karena memberikan bonus tas yang lucu. Padahal, isinya tidak menarik perhatian Anda.

Kurangi pengeluaran untuk transportasi. Jika kawasan perumahan Anda menyediakan bus feeder busway, tinggalkan mobil Anda di rumah atau di terminal, dan gunakan transportasi umum ini. Atau, jika ada beberapa orang di kantor Anda yang tinggal di kawasan yang berdekatan, aturlah untuk menggunakan satu mobil saja. Anda bisa patungan untuk membayar tol atau bensin.

Downgrade program TV berlangganan. Jika Anda baru tiba di rumah rata-rata pukul 21.00, weekend pun sering menghabiskan waktu di luar rumah, untuk apa mengambil program TV berlangganan yang premium? Ambil saja paket berlangganan yang dasar, sekadar agar Anda dapat menikmati tayangan TV yang lebih jelas.

Kurangi pengeluaran listrik, dengan mematikan AC saat Anda sudah tidak berada di kamar, mematikan lampu-lampu saat Anda bepergian malam hari, tidak membiarkan komputer terus menyala saat Anda melakukan aktivitas lain, mematikan TV saat tidak ada yang menonton di depannya, dan lain sebagainya. Selain menghemat biaya, Anda juga sudah mendukung kampanye go green atau antipemanasan global.

Mencoba laundry lokal atau kiloan. Anda mungkin terbiasa membawa pakaian kotor ke laundry berlisensi (baik lokal maupun asing). Namun cobalah untuk membawanya ke laundry milik tetangga, atau laundry kiloan yang mulai ngetren sekarang. Tarifnya jauh lebih murah daripada yang berlisensi. Pilih pakaian Anda yang tidak membutuhkan banyak perawatan untuk melihat kualitas kerjanya. Sedangkan pakaian “mahal” seperti kebaya, jas, atasan dengan lace atau bulu yang halus, boleh tetap dibawa ke laundry berlisensi.

Jangan terlambat membayar kartu kredit atau asuransi. Keterlambatan akan menyebabkan Anda terkena denda yang lumayan besar jumlahnya. Atasi rasa malas Anda untuk mengunjungi bank, atau buat reminder bahwa Anda sudah harus membayar tagihan.

Jahit baju sendiri. Anda melihat baju yang cantik namun harganya menguras kantong di mal? Ketimbang menggesek kartu kredit, mending Anda ingat bagaimana model baju tersebut, gambar di notes, lalu bawa ke tukang jahit langganan Anda. Bila baju yang Anda inginkan menggunakan bahan tertentu atau detail seperti korsase atau bordir, tanyakan pada tukang jahit Anda apakah ia mampu mengusahakan hal itu.

Penghematan pengeluaran dari masing-masing pos ini mungkin tak terlalu banyak. Namun jika diakumulasi, paling tidak Anda bisa menabung Rp 1.000.000,-. Bila Anda sudah membiasakan diri berhemat dan melihat hasilnya, Anda akan makin bersemangat untuk mengurangi pengeluaran di pos-pos lain.

Sumber : kompas.com

Iklan

Pensiun Dini & Mempersiapkan Masa Pensiun

Posted in Keuangan with tags , , on 3 Februari 2009 by tigerhungry

Kok judulnya aneh, “Pensiun Dini” bukan karena dipecat / dikeluarkan dari perusahaan. Tapi Saya coba mau menulis mempersiapkan masa pensiun sedini mungkin dan mau memberikan gambaran dimasa pensiun nanti.

Dinegara kita banyak orang beranggapan yang penting kerja yang baik, bayar iuran untuk pensiun, nanti kalo sudah pensiun tinggal menikmati hasil dari “tabungan hari tua”. Oleh karena konsep berpikir seperti inilah, banyak orang terperangkap oleh zona nyaman karena saat ini sudah bekerja dan berpenghasilan lebih. Mungkin untuk yang berpenghasilan besar sekali hal ini bisa saja “aman” tetapi buat pegawai biasa di level midle kebawah hal ini sangat berbahaya. Mari kita lihat Bahayanya adalah kita lihat berapa banyak pegawai atau bahkan orang tua kita sendiri yang sudah pensiun tapi masih tetap harus mencari kebutuhan untuk kehidupan anak / cucu  atau bahkan untuk kehidupan mereka sendiri. Apakah ini yang dinamakan pensiun ?

Perlu kita ingat, pola pikir yang ditanamkan disekolah khususnya di Indonesia adalah pola pikir pekerja. Setelah lulus sekolah, kerja dan pensiun. Sementara saat pensiun jangan berpikir kita tidak butuh biaya apa-apa lagi, justru sebaliknya saat pensiun kita butuh dana lebih oleh karena :

1. Penyakit yang timbul oleh karena tubuh sekian tahun diforsir untuk bekerja keras selagi muda

2. Biaya checkup rutin ke dokter / RS

3. Biaya Hidup kita sendiri, diluar anak-anak

4. Anak kita belum “berhasil” dan gaji mereka hanya cukup atau bahkan kurang untuk kehidupan mereka sendiri

5. Renovasi Rumah

6. Biaya sekolah / kuliah anak, buat Anda yang masuk saat pensiun anak belum lulus kuliah.

Oleh karena alasan diatas kita harus mempersiapkan masa pensiun lebih dini dari pada hanya sebatas mengandalkan “uang pensiun” atau “dana pensiun”. Orang banyak kesalahan menggunakan dana pensiun “semata wayang” mereka untuk berbisnis, sementara mereka sendiri mungkin dalam pekerjaan nya tidak tahu cara menjalankan bisnis / investasi. Yang ada adalah “GATOT” alias gagal total, hal ini lah yang membuat banyak orang pensiun kembali bekerja apa saja untuk menghidupi keluarganya. Saat Anda pensiun, mungkin anak Anda baru mulai merintis usaha / bekerja tentu saja penghasilan tersebut belum bisa untuk membantu kondisi keuangan keluarga Anda.

Di Pilipina, mereka mempersiapkan pensiun mereka dari umur < 30 tahun, mereka membekali diri mereka dengan pengetahuan dan menghimpun dana untuk mempersiapkan masa pensiun mereka.

So … dari cerita-cerita warung kopi diatas, apakah Anda :

  • Sudah mempersiapkan masa pensiun Anda dengan baik ?
  • Anda masih berpikir “Pensiun tidak butuh Uang” lebih ?

Untuk mempersiapkan Pensiun Dini, Anda harus mencari “bisnis” yang bisa Anda persiapkan dari sekarang dimana nantinya disaat Anda pensiun Anda tinggal menikmati hasilnya. Bisnis yang tidak mengganggu pekerjaan Anda dan dimana Anda dapat belajar berbisnis tanpa takut gagal / bangkrut.

Selamat mempersiapkan masa Pensiun Anda.

Note :

Anak bukan investasi jangka panjang Anda !!

Penyebab Krisis Global itu Bernama “SubPrime Mortgage”

Posted in Keuangan with tags , , on 2 Februari 2009 by tigerhungry

Sekilas mengenai krisis global yg disebabkan oleh yg namanya SubPrime Mortgage.

KPR di Amerika dibagi menjadi 3 kategori :

  1. Prime: bunganya paling rendah tapi khusus untuk yg keuangannya solid
  2. Alt-A: kelas menengah tapi tidak memenuhi kategori Prime, bunganya lebih tinggi sedikit krn resikonya lebih tinggi dari yg Prime
  3. SubPrime: KPR kelas terendah yang bunganya paling tinggi krn resikonya yang paling tinggi.

Di AS sana orang yg mau kredit rumah DP-nya tidak sebesar di Indonesia. Kalau di sini DP rumah biasanya sebesar 30% (walaupun rumahnya belum dibangun, alias masih tanah merah), hehehe artinya resiko kita sebagai pembeli rumah dengan kredit di Indo sebenarnya cukup tinggi krn ada resiko DP sebesar 30% yg bisa dibawa lari oleh developer dan pembangunan rumah kita bisa tidak diselesaikan.

Sedangkan di AS sana DP untuk rumah dibagi menjadi 2 tahap, tahap-1 Cuma 5%, dan kalau rumahnya sudah jadi (sekitar 1-2 tahun) maka dia harus membayar DP ke-2 sebesar 25% lagi sekaligus dan sisanya yg 70% barulah dicicil (kl di singapura sih KPR nya bisa s/d 30 thn).

Kalau seumpama harga rumahnya 1 Milyar, dengan membayar 50 juta saja (5%) orang sana bisa membeli rumah dengan kredit. Nah selama menunggu proses pembangunan rumah tersebut banyak orang di sana yang menjual kepada orang lain DP yg 5% tersebut dengan kenaikan bervariatif dan bisa tangan-bertangan tuh jika harga pasar rumah tsb naiknya cukup tinggi,
Misal krn harga rumahnya naik menjadi 1.4 Milyar maka DP ke-1 yg 5% tsb dijual kepada orang lain sebesar 70 juta dan itu berarti dia sudah untung 20 juta.

Celakanya di saat rumahnya sudah jadi, pembeli terakhir harus membayar sekaligus DP ke-2 yg 25% yg nilainya lumayan tinggi.
Nah saat krisis itu awalnya banyak orang yg tidak mau atau tidak mampu membayar DP ke-2 nya yg sebesar 25%, dan akhirnya karena banyak yg tidak membayar DP ke-2 maka surat tanah tsb kembali menjadi milik bank dan menjadi kredit macet.
Tentunya kl Cuma 1 atau bbrp orang saja yg melakukan hal tsb tidak ada pengaruh apa2, tapi kl yg melakukan hal tsb dalam jumlah yg sangat banyak akan luar biasa dampaknya.

Penyebab itu semua  ternyata persetujuan kredit rumah di sana ternyata dimanipulasi juga, artinya banyak orang yg sebenarnya tidak layak untuk mencicil rumah dengan harga tsb tapi ternyata permohonan kreditnya disetujui juga yang menyebabkan banyak konsumen yg kena kredit macet atau tidak mampu melunasi DP ke-2 nya.
Dampak dari kredit macet massal ini adalah, banyak rumah yg disita dan dilepas ke pasar dan akan menekan harga properti,

Selain itu ternyata walaupun bank sentral AS sudah menurunkan bunga hingga mendekati nol persen, ternyata bunga KPR di sana sejak tahun lalu s/d sekaran tidak turun-turun juga mengikuti penurunan bunga bank sentral nya.

Itu baru dari satu hal, belum lagi kl di sana itu mengenal namanya surat hipotek, yg artinya surat rumah yg di tangan bank itu diperjual belikan juga di pasar uang sebagai produk investasi dimana banyak bank yg menggunakan uang nasabahnya untuk bermain di sini dengan keuntungan yg lumayan. Pertanyaannya sekarang, apa jadinya kl mereka memperjual belikan surat rumah yg kreditnya macet ?

Belum lagi ternyata kredit macetnya juga sudah merambah ke kategori Alt-A dan Prime juga, yang artinya akan sangat berdampak kepada belanja konsumsi kalangan tsb. Dan ujung2nya akan berdampak pada melambatnya perekonomian nasional mereka.

Kalau perekonomian negara adidaya yg tadinya mempunyai tingkat konsumsi yang tinggi menjadi melambat perekonomiannya,  apa dampaknya bagi negara-negara yg banyak memasok barang ke sana spt China ?

Kl China menurun ekspornya ke AS karena perlambatan ekonomi di AS, apakah mereka tidak berpikir untuk melempar produknya ke negara lain spt Indonesia ? Apa jadinya jika produk-produk dari China yang terkenal murah itu membanjiri negara kita ? Apakah produk lokal kita bisa bersaing ? Jika tidak, apa dampaknya buat industri lokal kita ?

Kl dulu di saat Krismon th 1998 kita masih bisa meminta tolong ke negara tetangga yg tidak terkena krisis, susahnya krisis sekarang negara-negara tetangga kita juga lagi krisis.

Tulisan ini bukan untuk membuat kita jadi kuatir berlebihan, tapi hanya untuk menambah wawasan kita dan juga agar kita tetap waspada walaupun belum ada pernyataan resmi dari negara kita mengenai keadaan ekonomi negara kita. Bijaksana juga dalam mengeluarkan uang kita di saat dunia ini sedang bergejolak dan dimana kita belum tahu dampak nyatanya buat kehidupan kita di tahun 2009 ini.

Tidak perlu menunggu pernyataan resmi dari pemerintah kita baru kita berjaga2, percayalah jika krisis benar2 terjadi dalam hidup kita tidak ada orang lain yg dapat kita andalkan untuk membantu kita.
Dan ingatlah juga, di saat kondisi ekonomi ter-baik pun kita tidak akan bisa merasakan manfaatnya  dalam hidup kita jika kita hanya menonton dan berpangku tangan saja.
Salah satu musuh manusia adalah zona kenyamanan yang membuat dirinya tidak mau berkembang lagi dan akhirnya nanti akan tergilas oleh zaman yang sudah berubah lebih dulu dgn cepat.
Kl memang perlu mencari penghasilan tambahan, carilah dan tekunilah dari sekarang krn semuanya butuh waktu, karena tidak pernah ada waktu yang paling tepat untuk melakukan perubahan selain daripada sekarang.

Sumber : http://santosoleonardi.wordpress.com/