Archive for the Keluarga Category

Bacaan Anak Pengaruhi Karakternya 25 Tahun Mendatang

Posted in Keluarga on 22 Juni 2009 by tigerhungry

Cerita atau bacaan yang dibaca oleh anak kita saat ini akan memengaruhi karakternya 25 tahun kemudian, apakah si anak itu cerdik, jujur, licik, serta berbagai karakter lain yang baik atau buruk dalam dirinya.

Untuk itulah, orang tua perlu pandai-pandai dan bijaksana memilihkan bacaan untuk anaknya. Demikian teori David McClelland tersebut dilontarkan oleh Renny Yaniar, Pemimpin Redaksi Majalah Anak Mombi, dalam diskusi ‘Cerita Rakyat Memperkaya Dunia Dongeng Anak’, Sabtu (21/6), di Jakarta.

Renny menambahkan, untuk teorinya itu McClelland mengambil sampel Inggris dan Spanyol, dua negara raksasa di awal abad ke-16. Dalam perkembangan selanjutnya, ujar Renny, Inggris terus menjadi negara maju, sebaliknya Spanyol malah mengalami kemunduran.

“Mengapa bisa begitu ternyata McClelland, psikolog asal Universitas Harvard, itu mendasari penyebabnya bahwa persoalan karakter anak-anak sebagai generasi penerus bangsanya adalah berlatar dari apa yang mereka baca,” ujar Renny.

Menurut McClelland, lanjut Renny, cerita dan dongeng-dongeng yang berkembang di Inggris pada masa-masa itu mengandung nilai-nilai optimisme yang tinggi (need for achievement), keberanian untuk mengubah nasib, serta sikap tidak gampang menyerah.

“Dongeng-dongeng itu ternyata telah menjadi virus yang mampu membuat anak-anak sebagai penikmatnya dipengaruhi sindroma ingin terus maju dan terus berprestasi tanpa kenal menyerah,” ujar Renny. “Sebaliknya, umumnya dongeng di Spanyol kebanyakan mengandung nilai-nilai komedi berunsur kecerdikan yang licik dan penuh tipu daya, seperti kisah si Kancil,” tambahnya.

Untuk itulah, Renny mengisyarakatkan perlunya orang tua zaman sekarang memilih bacaan yang baik untuk putra-putrinya, khususnya yang masih berusia dini. Cerita Rakyat, lanjut Renny, merupakan satu dari sekian banyak bacaan yang perlu menjadi pilihan bagi orang tua.

“Cerita rakyat itu imajinatif sehingga sangat baik untuk mengembangkan daya berpikir si anak, apalagi di dalamnya penuh mengandung pesan yang baik soal kejujuran, pantang menyerah, hormat kepada orang dan lain-lain yang selalu bersifat positif,” ujar Renny.

Sumber : kompas.com

7 Cara Memaksimalkan Kecerdasan Anak

Posted in Keluarga with tags on 23 April 2009 by tigerhungry
Setiap anak dilahirkan dengan segala karakter, sifat, dan kecerdasannya. Seperti apa semua bekal dari Tuhan itu akan berkembang di kemudian hari, tergantung pada stimulasi apa yang mereka terima selama tumbuh.

Para peneliti kecerdasan individu selalu melihat gambaran menyeluruh saat mengukur inteligensi anak-anak. Psikologis Howard Gardner’s, penemu Multiple Intelligence Theory (Teori Kecerdasan Ganda) menguatkan fakta bahwa banyak perbedaan dalam cara seorang anak menjadi cerdas. Merunut pada sebuah pertanyaan, “Sepintar apa anak ini?”, sebuah pertanyaan yang baik akan berbunyi, “Bagaimana anak ini bisa pintar?”.

Selama tumbuh kembangnya, anak-anak belajar bagaimana bisa hidup bersama orang lain dan menemukan kebutuhan sendiri. Hal tersebut memberi kontribusi pada perkembangan kecerdasan mereka.

Multiple Intelligence Theory

Menurut Multiple Intelligence Theory, masing-masing kita memiliki tujuh kecerdasan atau cara untuk menjadi cerdas. Beberapa dari kita sangat piawai dalam ketrampilan tangan, lainnya bagus dalam membuat irama musik, atau mendendangkan lagu. Masing-masing tipe kecerdasan menjadi modal kita untuk memberikan sesuatu pada dunia. Apa yang menjadikan unik adalah cara kita mengekspresikan kecerdasan tersebut dalam kehidupan.

Berdasarkan teori tersebut, kita dapat membantu anak-anak meningkatkan kekuatan individunya. Tapi jangan terburu-buru melabeli seorang anak usia prasekolah nantinya akan menjadi seorang akuntan, artis, atau atlet, tanpa memberinya kesempatan mengeksplorasi dunia, bekerja dengan keterampilannya, dan membangun kemampuan diri.

Bayangkan seseorang yang tengah tumbuh tapi tidak dapat melakukan apapun selain menulis puisi, atau memecahkan masalah aljabar. Tentu membosankan. Untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti mengemudikan mobil atau mempraktikkan sebuah resep, seseorang harus cerdas dengan cara lain. Pada dasarnya, kita adalah manusia cerdas dengan ketujuh kecerdasan tersebut.

Berikut trik bagaimana memaksimalkan multiple intelligences, seperti diungkapkan Health24:

Word smart
Profesi jurnalis, pengacara, dan pendongeng punya kemampuan apa yang disebut Gardner sebagai kecerdasan bahasa. Orang-orang dengan kecerdasan ini sangat baik dalam menggunakan kemampuan menulis dan bicara saat berkomunikasi.

Logic smart
Orang dengan kecerdasan logical-mathematical sangat baik dalam berargumen, dan berpikir logis atas sebab-akibat. Peneliti, akuntan, dan programmer komputer secara umum memiliki kemampuan ini.

Picture smart
Dikenal pula sebagai spatial intelligence, yakni orang-orang mudah memvisualisasikan atau mengambar sesuatu secara akurat.

Music smart
Kecerdasan musikal adalah kecerdasan bermusik dan bernyanyi. Orang-orang dengan kecerdasan ini sangat menguasai melodi.

Body smart
Individu dengan bodily-kinesthetic intelligence sangat mudah mengendalikan pergerakan tubuhnya. Tidak hanya pada olahraga luar ruangan, tapi juga pekerjaan seperti menjahit dan bertukang.

Person smart
Beberapa orang memiliki kemampuan merespons dan memahami orang lain. Kecerdasan ini adalah sebuah anugerah di mana ia bisa dengan mudah melihat sesuatu dari perspektif lain.

Self smart
Orang-orang dengan kecerdasan ini cenderung lebih bersahaja dan bisa dengan mudah “memasuki” perasaan mereka lewat instropeksi dan meditasi.

Dengan mengeksplorasi semua kecerdasan tersebut, anak-anak akan menjadi individu yang lebih komprehensif dan bisa sukses di banyak aspek kehidupannya. Kita, terutama orangtua harus melihat perbedaan tersebut sebagai sebagai kekuatan diri setiap anak.

Beberapa anak memberi respons lebih pada kata-kata, sementara anak lainnya dengan musik, dan banyak hal lain. Intinya, biarkanlah anak-anak mengekspresikan diri. Jika mereka diberi kesempatan belajar dan meningkatkan diri di wilayah kehidupan yang mereka pilih, mereka tidak hanya akan menjadi kuat, tapi juga tumbuh menjadi pribadi cerdas di banyak cara dibanding lainnya.

Sumber : okezone.com

Selingkuh ?

Posted in Keluarga on 3 Februari 2009 by tigerhungry

Selingkuh barangkali salah satu penyebab masalah dalam perkawinan yang paling menyakitkan. Ketika akhirnya bersatu kembali dengan pasangan, pihak yang diduakan umumnya sulit melupakan bayangan tentang perselingkuhan tersebut. Siapa perempuan yang telah memikat hati suami, bagaimana penampilannya, dan bagaimana suami memperlakukan perempuan tersebut, inilah yang akan terus menghantui pikiran sang istri. Apalagi jika selama ini suami selalu menunjukkan perasaan sayangnya kepada istri, dan selalu memperhatikan anak-anak. Lebih parah lagi, suami terkesan pendiam dan tidak neko-neko. Pertanyaan mendasarnya, mengapa pria berselingkuh?

Alasan seseorang berselingkuh bisa berbagai macam. Namun karena masyarakat cenderung membolehkan, atau menganggap biasa pria berselingkuh, akhirnya hal ini dijadikan pembenaran oleh kaum pria.

Selingkuh juga bukan hanya “milik” kaum pria, meskipun ada pendapat yang mengatakan bahwa pria pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk berselingkuh. Baik perempuan atau laki-laki mempunyai dorongan untuk berselingkuh, meskipun alasannya bisa jadi berbeda. “Keduanya bisa jadi selingkuh bila ada kekecewaan, atau hal-hal yang diharapkannya tidak terpenuhi dari pasangan. Misalnya perempuan yang tertekan dalam hubungan dengan suami, atau memiliki suami yang sangat penuntut tetapi kurang memberikan perhatian, juga bisa saja tertarik pada pria lain yang menurutnya dapat memberinya perhatian,” jelas Kristi Poerwandari, pengajar di Fakultas Psikologi UI.

Meskipun demikian, “Saya rasa pada akhirnya selingkuh terjadi karena situasi dalam diri orang itu. Meski ada rayuan kalau si individu tidak menanggapi, ya tidak terjadi perselingkuhan,” lanjutnya.

Karena penyebab perselingkuhan itu bermacam-macam, maka pria “baik-baik” pun juga bisa selingkuh. “Mungkin ini sedikit menjelaskan ‘kekhasan’ pria ya, entah ia merasa tidak ada hal baru yang memunculkan hasrat-hasrat baru dalam relasinya yang tenang, yang baik-baik dan harmonis? Tetapi saya rasa perempuan juga ada yang demikian, apalagi dalam era di mana dunia kerja demikian terbuka dan membuat kita selalu bertemu dengan orang-orang baru yang menarik. Intinya kecenderungan berselingkuh itu ada pada manusia, jadi masing-masing perlu menjaga sikap dirinya dan terus berkomunikasi dengan pasangannya untuk memperbarui hubungan,” kata Ketua Program Studi (S2) Kajian Wanita UI, yang juga pendiri dan pengurus Yayasan Pulih, yayasan untuk intervensi trauma dan penguatan psikososial ini.

Untuk mampu mengatasi ketertarikan pada pria atau wanita lain, tentu dibutuhkan niat atau kesungguhan dari dalam diri. Sebab jika kita menuruti perasaan untuk menjalin hubungan (emosional, bahkan fisik) dengan orang lain, akan ada sesuatu yang dikorbankan. Entah itu perasaan istri, anak-anak, orangtua, dan seterusnya. Belum lagi jika kehidupan pribadi suami diketahui oleh lingkungan pekerjaan, yang lalu mempengaruhi penilaian perusahaan terhadap prestasinya.

Masalahnya kemudian, jika pasangan kita berselingkuh, perlukan kita memaafkan dan menerimanya kembali?

Jawabannya bukan pada orang lain tapi pada si individu itu sendiri. Baik perempuan atau laki-laki yang mendapati pasangannya berselingkuh perlu merenung dan bersikap sejujur-jujurnya untuk lebih memahami situasi, lebih mengerti diri sendiri, dan juga lebih mengerti pasangan: apakah selingkuh sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan? Apakah ini suatu kekhilafan yang memang sungguh disesali pasangan? Apakah pasangan memiliki banyak sisi positif dibandingkan sisi negatifnya?

“Lha kalau si istri berniat banget menerima suami kembali, tetapi suaminya sama sekali tidak peduli dan tidak mau mengubah diri juga, untuk apa ya? Tetapi sebaliknya, bila memang suami sangat menyesali yang terjadi, dan dia punya banyak sisi baik, betapa sayangnya untuk meninggalkan hubungan itu kan?”

Bila kita memaksakan diri tetap dalam hubungan sementara pasangan sudah enggan, hubungan itu akan menjadi wadah yang sangat menyengsarakan kita. Jika kita berkeras kepala menolak sementara pasangan sebenarnya sangat menyesal dan mau berubah, kita sendiri sebenarnya juga tidak bahagia. Jadi kembali kita harus mampu bersikap sejujur-jujurnya untuk mengakui perasaan diri sendiri, dan mengakui sesungguhnya bagaimana sikap pasangan kepada kita.

Selain itu harus Anda sadari bahwa untuk dapat menjalani kembali hubungan seperti dulu memang butuh waktu. Hal ini hanya akan terjadi ketika Anda betul-betul telah memaafkan perbuatannya, dan terus berusaha memperbaiki diri sendiri. Ingatlah saja hal-hal baik pada dirinya, karena mengingat hal-hal yang buruk hanya akan membuat Anda terus-menerus sakit hati.

Sumber : kompas.com