Archive for the Karir Category

10 Mitos tentang Networking

Posted in Karir on 23 April 2009 by tigerhungry
Menjalin networking atau jaringan kerja tak selalu berarti mengenal semua orang yang berkedudukan penting dalam bisnis yang dijalankan. Networking bahkan tak harus dibangun dengan kerja keras.

Awalnya, istilah networking muncul pada bidang teknologi informasi. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan sebuah konstruksi atau desain, baik yang berbentuk hardware maupun software untuk menciptakan sebuah sistem jringan sekaligus mengoperasikan sistem tersebut.

Dalam perkembangannya, istilah ini kemudian diadopsi untuk menjelaskan sebuah hubungan dalam kehidupan sosial. Pernah mendengar istilah social networking? Nah, istilah ini bisa diartikan sebagai sebuah jaringan pertemanan yang mampu membuat anggotanya untuk berkomunikasi satu dengan yang lain. Komunikasi atau pertemanan ini bersifat simbiosis mutualisme karena masing-masing anggotanya mendapatkan keuntungan dari hubungan tersebut.

Dalam dunia kerja, networking atau jaringan kerja bisa mengarah pada setiap bentuk kegiatan yang dilakukan seseorang agar bisa mendapatkan jaringan bisnis yang dikelolanya. Karena itulah, istilah networking sering dikaitkan dengan menjalin hubungan hubungan dengan banyak orang untuk memuluskan rencana atau kepentingan orang tersebut.

Namun, konsultan karier Liz Ryan seperti dikutip news.yahoo.com, menganggap bahwa masyarakat masih sering salah mengartikan istilah networking. Ia mengatakan, banyak mitos yang berkembang tentang networking yang bisa mengacaukan pandangan tentang arti networking sesungguhnya. Berikut 10 mitos yang diungkapkan Liz tentang networking.

Networking berarti bertemu dengan sebanyak mungkin orang

Menyimpan begitu banyak kartu nama orang-orang penting atau bertemu dengan semua orang penting di kota Anda bisa jadi sebuah jalan menuju kesuksesan bisnis. Tapi yang paling penting sebenarnya ialah kualitas hubungan tersebut, bukan kuantitasnya. Tak ada gunanya Anda menyimpan kartu nama mereka tanpa sedikit pun menjalin pertemanan yang akrab dengan orang-orang tersebut. Jadi sebaiknya Anda melakukan komunikasi intens dengan mereka. Intinya jalinan komunikasi menjadi penting, mungkin saja suatu waktu Anda memang membutuhkan orang yang Anda kenal melalui kartu nama tersebut.

Networking berarti menceritakan tentang bisnis Anda kapan pun di mana pun

Tak ada yang salah jika Anda antusias menceritakan bisnis dan kehidupan Anda. Tapi orang-orang biasanya akan segera lupa dengan detail cerita Anda. Akan lebih baik jika Anda mencoba menarik simpatinya dengan mendengarkan cerita dan keinginan mereka. Dengan mendengarkan orang lain, Anda bisa melihat keinginan terdalam mereka dan punya potensi besar untuk didengarkan saat Anda memberi umpan balik atau saran.

Networking adalah kerja keras

Networking akan terbentuk secara otomatis jika Anda berkenalan dengan seseorang, tetap menjalin kontak dan hubungan yang baik dengannya, dan menempatkan kepentingannya terlebih dahulu dengan selalu berpikir, “Apa yang saya bisa lakukkan untuk orang ini?” Setelah Anda tahu apa yang diinginkannya, tentu akan mudah untuk menjalin jaringan kerja dengannya. Untuk itu, usaha ekstra keras sangat dibutuhkan. Baik menyangkut pemikiran Anda juga sedikit menguras tenaga Anda. Tapi kerja keras itu nantinya akan sangat menguntungkan Anda sendiri.

Networking dibentuk saat Anda sedang membutuhkannya

Bagaimana mungkin Anda baru membangun jaringan saat Anda membutuhkannya? Sebuah networking tidak bisa langsung berfungsi dengan baik saat baru dibentuk. Sistem ini membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk tumbuh dan menampakkan hasil. Jadi jangan tunggu sampai Anda membutuhkan untuk mencari pekerjaan atau berkarier di bidang lain. Mulailah membentuk networking sekarang juga dan lihat hasilnya saat Anda membutuhkannya.

Networking hanya untuk orang-orang yang kurang cerdas

Untuk membangun sebuah networking yang baik dan berfungsi tepat, seseorang membutuhkan keahlian berkomunikasi yang lihai untuk memengaruhi orang lain. Kemampuan mendengarkan orang lain juga jadi salah satu senjata untuk membangun kepercayaan pada networking. Jadi bagaimana mungkin networking hanya untuk orang yang kurang cerdas?

Networking hanya untuk enterpreneurs

Membangun jaringan dengan kaum profesional lainnya membuat seorang bisa mendapatkan perspektif yang berbeda tentang dunia bisnis dan kerja, yang bisa jadi tidak dipikirkan sebelumnya oleh orang tersebut. Pendapat ini, tidak selalu benar, networking dibutuhkan bagi Anda yang ingin memiliki wawasan yang luas, dan jaringan yang luas pula. Sehingga keingintahuan Anda untuk menambah wawasan itu, bukan berarti Anda kurang cerdas kan?

Networking hanya membuang-buang waktu

Jika tujuan Anda membangun networking hanya untuk menjajakan produk Anda atau menceritakan tentang pekerjaan Anda tanpa ada ketertarikan mendengarkan cerita orang lain, maka networking memang sia-sia belaka. Inti dari networking adalah membangun pertemanan, rasa nyaman, dan kepercayaan. Jika hal ini sudah dirasakan orang lain terhadap Anda, maka apa pun yang Anda inginkan akan mengikuti.

Networking mahal

Sekarang ini banyak situs pertemanan yang gratis. Pertemuan tatap muka juga bisa dirancang di lokasi yang tidak terlalu mengeluarkan banyak biaya. Sehingga menjalin networking membutuhkan biaya mahal itu adalah pendapat yang keliru. Saat ini yang dibutuhkan adalah bagaimana Anda memanfaatkan celah dan peluang yang ada.

Networking itu menipu

Saat Anda berbincang dengan seseorang dalam networking, topik dan kalimat yang keluar dari mulut Anda diatur oleh Anda sendiri. Semuanya tergantung pada Anda. Jadi jika Anda berbohong, itu karena Anda yang ingin berbohong.

Networking ketinggalan zaman

Bagaimana mungkin hubungan antar manusia dikatakan ketinggalan zaman? Apalagi jika hubungan tersebut berkaitan dengan kemajuan bisnis. Walaupun dengan kecanggihan teknologi dan apapun bisa dilakukan sendiri, namun membuat networking tetap diperlukan. Kita perlu berinteraksi dengan yang lain. Walaupun mungkin interaksi itu hanya di dunia maya.

Sumber : okezone.com

Menciptakan “Emotional Value” Positif dalam Pekerjaan

Posted in Karir on 8 April 2009 by tigerhungry
APA pun pekerjaan Anda, menjalin hubungan baik dengan klien atau pelanggan adalah hal yang utama demi keberlangsungan karier atau bisnis Anda. Hubungan baik ini berpengaruh hingga 68 persen terhadap keputusan klien, apakah tetap ingin melanjutkan bisnis dengan Anda atau memilih untuk bermitra dengan orang atau perusahaan lain.

Suatu hubungan, relationship, bisa diartikan sebagai “keterkaitan emosi antar manusia”. Jika di dalam dunia kerja, klien sudah memiliki ketergantungan atau kedekatan secara emosi dengan Anda, bisa dipastikan pekerjaan atau bisnis Anda akan berjalan lancar.

Berikut langkah-langkah yang bisa Anda terapkan untuk menciptakan “emotional value” yang positif dalam hubungan bisnis dengan klien.

Jelaskan “emotional value” pekerjaan Anda

Jika Anda bertanya pada seseorang, apa pekerjaan mereka, hampir semua orang akan memberi jawaban yang fungsional, misalnya “saya dokter” atau “saya pilot”. Jawaban ini memang menjelaskan pekerjaan mereka, tapi tidak menjelaskan nilai atau value dari pekerjaan tersebut. Apa “nilai” dari pekerjaan seorang dokter? Jawabnya bisa jadi “kenyamanan”, “ketenangan”, atau “kedamaian”. Seorang agen asuransi memiliki nilai “keamanan masa depan”. Semua nilai ini memberikan pernyataan emosional, menyertakan perasaan-perasaan dasar manusia untuk bisa bertahan hidup dan merasa tenang menjalani hidup. Jadi, saat Anda bertemu dengan seseorang di sebuah pertemuan, jelaskan pekerjaan Anda secara fungsional sekaligus nilai.

Memahami kebutuhan emosi para klien

Bagaimana agar “nilai” pekerjaan kita bisa berpengaruh terhadap emosi atau kehidupan klien? Tentunya, terlebih dahulu, Anda harus mengetahui kebutuhan klien Anda. Apa yang mereka butuhkan? Apa yang ingin mereka rasakan? Apakah mereka menginginkan rasa percaya diri yang tinggi dalam diri mereka, atau mereka ingin terlihat fashionable? Atau mereka ingin dimengerti oleh Anda? Carilah emosi atau perasaan yang klien inginkan dalam hidupnya. Setelah menemukannya, Anda bisa datang dan menawarkan solusi dari keinginan mereka tersebut.

Ingin semua hal tentang klien Anda

Terkadang pembicaraan singkat dengan calon klien bisa mengantarkan Anda pada satu petunjuk apa yang dibutuhkannya. Bisa saja calon klien tersebut tidak sadar dengan kebutuhan itu. Nah, tugas Andalah, dengan merekam dan mencermati setiap kata-katanya, bisa menemukan kebutuhan tersebut. Dengan mengumpulkan seluruh “bukti-bukti”, maka jika saatnya Anda harus menawarkan sesuatu atau melakukan suatu penelitian, Anda akan segera menemukan jawabannya dengan cepat.

Berhenti mengirimkan kartu ucapan di hari raya

Tahukah berapa banyak perusahaan lain yang mengirimkan kartu ucapan hari raya (Idul Fitri/Natal) pada klien Anda? Jawabannya bisa jadi sangat banyak. Jadi mungkin saja kartu ucapan dari Anda tak terlalu memberi kesan mendalam untuknya. Daripada mengirimkan kartu ucapan hari raya, lebih baik Anda mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun padanya. Sangat personal dan manis bukan?

Empati

Jika Anda benar-benar mendengarkan kata-kata klien, maka Anda akan mendengar emosi dan perasaan terdalam yang muncul dari kata-kata dan intonasi suaranya tersebut. Jika mendengar lebih dalam lagi, maka Anda bisa memahami dan berempati dengan situasi yang dihadapinya. Semakin Anda mengerti klien Anda, maka Anda akan semakin mampu membantunya. Semakin Anda berempati kepadanya, maka ia akan semakin merasa dimengerti.

Ajukan pertanyaan

Jangan lupa untuk menanyakan tingkat kepuasan mereka terhadap produk atau jasa Anda. Apakah memuaskan mereka? Apakah ada hal yang kurang atau tidak menyenangkan dengan produk atau jasa Anda? Bertanya seputar hal tersebut menandakan Anda peduli terhadap pendapat klien sekaligus juga membangun hubungan baik dengan mereka. Ingat, terbukalah jika ternyata komentar mereka negatif. Jadikan saja pendapat mereka sebagai kritik membangun agar Anda bisa belajar kembali membangun “emotional value” dengan para klien.

Sumber : okezone.com

Memburu Karier Impian

Posted in Karir on 31 Maret 2009 by tigerhungry
PERNAHKAH Anda bangun pagi hari dan merasa luar biasa malas untuk pergi ke kantor dan bekerja? Bisa jadi Anda memang sedang jenuh dengan rutinitas pekerjaan sehari-hari.

Namun, bagaimana jika ternyata Anda tak mencintai pekerjaan yang Anda geluti selama bertahun-tahun? Bagaimana jika sebenarnya Anda punya pekerjaan atau karier impian yang sudah dipendam bertahun-tahun dan belum sempat diwujudkan?

Meski tak ada data pasti, banyak orang yang mengakui bahwa mereka sebenarnya tak mencintai pekerjaan yang mereka lakukan setiap hari. Apa yang mereka lakukan sebenarnya hanyalah demi kepentingan ekonomi semata atau demi kepentingan menghidupi keluarga. Padahal, sebenarnya bukan tak mungkin mencari pekerjaan yang sesuai dengan hobi atau minat kita, dan jika hal ini terjadi, tentunya hasil yang kita dapatkan akan lebih menakjubkan dan bahkan lebih menghasilkan secara materi. Sebab, apa pun yang dikerjakan dengan hati pasti akan menghasilkan sesuatu yang hebat berkali-kali lipat.

Coba saja lihat penulis Raditya Dika yang terkenal dengan buku-bukunya seperti “Kambing Jantan dan Cinta Brontosaurus” yang juga sudah difilmkan. Dulunya, penulis yang biasa disapa Dika ini memang sempat “salah” memilih jurusan yang tidak disukainya. Namun, kemudian dia sadar bahwa menulis adalah cita-cita impiannya. Dan sekarang, semua orang bisa melihat bahwa Dika telah sukses secara materi dengan pilihannya tersebut. Buku-bukunya yang masuk kategori personal literature pun kini makin banyak ditiru konsep penulisannya oleh para penulis lain.

Contoh lainnya, ada presenter kondang Indy Barends. Dia sempat berkali-kali berganti pekerjaan kantoran, sebelum akhirnya memutuskan berkonsentrasi menjadi presenter dan akhirnya sukses di bidang ini. Saat itu, Indy memang tidak sadar akan potensi besarnya sebagai presenter. Untung Meuthia Kasim, atasannya waktu itu, melihat bahwa Indy punya potensi di bidang cuap-cuap tersebut.

Anda tentu tak harus jadi Indy Barends yang membutuhkan orang lain untuk menyadarkan potensi yang Anda miliki tapi belum tergali. Cobalah simak tips di bawah ini agar Anda bisa menemukan karier impian dan hidup bahagia bersamanya.

Bagaimana perasaan Anda tentang pekerjaan Anda saat ini?

Apakah Anda senang dengan pekerjaan Anda saat ini? Apakah pekerjaan ini cukup menantang? Apa yang membuat Anda tak bahagia dengan pekerjaan ini? Coba buat daftar hal-hal yang Anda sukai dan tidak sukai dari pekerjaan yang kini Anda jalani.

Buat gambaran tentang pekerjaan impian

Jika dari langkah pertama tadi ditarik kesimpulan kalau Anda tak menyukai pekerjaan Anda, buatlah gambaran pekerjaan seperti apa yang Anda inginkan. Apa yang Anda inginkan. Apa yang ingin Anda kerjakan? Jam berapa saja Anda merasa sangat produktif, pagi, siang, atau malam? Bagaimana gambaran Anda tentang ruang kerja Anda? Apakah Anda ingin bertemu dengan banyak orang dalam pekerjaan atau tidak? Semakin spesifik Anda membuat gambaran tentang pekerjaan dan kondisi ideal dalam pekerjaan, semakin mudah Anda menentukan langkah untuk memburu karier impian. Hal spesifik ini juga menyangkut hal-hal apa yang Anda anggap penting dalam hidup ini. Jika Anda menganggap kasih sayang dan kemanusiaan adalah hal terpenting, mungkin Anda bisa mendirikan sekolah yang ramah dan menyenangkan bagi anak-anak.

Pelajari karier atau pekerjaan yang Anda incar

Jika Anda sudah tahu keinginan Anda, cari tahu melalui teman-teman atau internet tentang pekerjaan yang Anda incar tersebut. Bagaimana cara kerjanya, apa saja hambatan yang mungkin muncul, bagaimana besaran gajinya, dan hal-hal lain yang Anda anggap penting sebelum menjajaki pekerjaan tersebut. Jika memungkinkan, bangun jaringan atau network dengan orang-orang yang bekerja di bidang yang Anda incar itu. Jadi, saat Anda sudah membangun network yang kuat dan bisa mendapat pekerjaan itu, Anda tinggal keluar dari pekerjaan lama tanpa harus menganggur terlebih dahulu.

Perbanyak keterampilan dan pengetahuan Anda

Jika masih ada ketrampilan yang belum Anda kuasai untuk masuk ke karier atau pekerjaan yang Anda idam-idamkan itu, segera ambil kursus atau minta seseorang untuk mengajari Anda. Tujuannya, tentu saja agar nanti Anda jadi SDM yang unggul dan berkualitas di bidangnya. Intinya, kenali kelemahan diri sendiri dan segera cari solusinya.

Lakukan aksi

Ini adalah bagian tersulit. Jika Anda belum mampu untuk langsung pindah ke pekerjaan yang Anda inginkan, carilah pekerjaan yang kira-kira bisa mendekatkan Anda dengan pekerjaan tersebut. Carilah batu loncatan, lakukan perlahan-lahan, hingga akhirnya Anda bisa mendapat pekerjaan idaman tersebut. Yang terpenting, setelah Anda tahu apa yang Anda mau, segera lakukan aksi.

Sumber : okezone.com

Selidiki Penyebab Karier Macet

Posted in Karir on 31 Maret 2009 by tigerhungry
ANDA sudah bekerja bertahun-tahun di sebuah perusahaan, namun tak kunjung mendapat kenaikan pangkat atau promosi? Semua tentu ada alasannya, dan bisa jadi salah satu alasannya adalah hal berikut ini.

Tak bisa bekerja sama

Kemampuan kerja Anda mungkin tak diragukan lagi, tapi masalahnya Anda tidak bisa bekerja sama dengan rekan kerja yang lain. Ego Anda terlalu menonjol dan membuat tim kerja gerah jika harus bekerja sama dengan Anda. Lebih baik tekan ego Anda dan diskusikan apa yang hendak dilakukan bersama rekan kerja. Jangan terkesan menguasai dan mencampuri tanggung jawab rekan yang lain.

Konflik dengan atasan

Konflik dengan atasan sangat berpengaruh terhadap perkembangan karier Anda di perusahaan tersebut. Jika konfliknya masih dalam tahap ringan, mungkin tak akan terlalu berpengaruh pada peningkatan karier Anda. Namun, jika konflik tersebut sudah sampai pada tahap sejalan lagi, Anda mungkin harus berpikir untuk pindah ke divisi lain atau resign dari perusahaan tersebut.

Selalu terlambat

Jika Anda sering telat menyelesaikan pekerjaan atau terlambat datang ke kantor, hal ini akan menimbulkan citra yang negatif. Cobalah disiplin dengan waktu Anda dengan mengerjakan segala sesuatunya lebih awal.

Tukang mengeluh

Sering mengeluh akan membuat Anda dicap sebagai orang yang emosional dan tidak memiliki jiwa pemimpin. Daripada mengeluh dan menyebarkan aura negatif pada rekan kerja yang lain, lebih baik Anda langsung berbicara pada atasan, sampaikan keberatan Anda, serta berikan solusi dari permasalahan tersebut.

Tak tahan kritik

Anda selalu defensif setiap kali ada kritik yang mampir ke telinga Anda. Akibatnya, pekerjaan Anda tidak akan mencapai kemajuan karena setiap kritik yang masuk tak pernah Anda dengar. Sebaiknya dengar dan ikuti saran yang ada jika memang saran itu bisa meningkatkan hasil kerja Anda. Kalaupun Anda tak terima kritik tersebut, berikan argumentasi yang cerdas agar pendapat Anda bisa diterima atasan.

Childish

Sifat kekanak-kanakan biasanya muncul saat seseorang berada di bawah tekanan. Sikap seperti ini jelas akan mengurangi credit point Anda di mata atasan dan rekan kerja. Sebaiknya berhenti bersikap seperti itu dan ubah citra diri Anda menjadi lebih positif. Jadilah orang yang bertanggung jawab dan bersikap profesional. Intinya, cobalah menempatkan diri dengan baik sesuai waktu dan kondisi.

Sering sakit

Tidak masuk kantor karena alasan sakit mungkin bisa dimaklumi atas alasan kemanusiaan. Tapi, jika alasan ini benar atau tidak, tetap saja Anda akan dianggap tidak akan mampu menanggung beban pekerjaan yang lebih berat lagi. Ujung-ujungnya, promosi akan menjauh dari Anda. Cobalah menjaga kondisi tubuh Anda dengan menerapkan pola hidup sehat.

Kurang bergaul

Dalam lingkungan pekerjaan, kompeten dalam menyelesaikan pekerjaan secara cepat dan tepat saja tidak cukup. Anda butuh keluwesan dalam bergaul jika ingin dianggap eksis atau diperhitungkan dalam promosi jabatan. Bagaimana kepandaian Anda akan terlihat jika keberadaan Anda tidak diketahui orang lain? Jadi, jangan hanya berkutat di belakang meja. “Beredarlah” di seputar kantor dengan menyapa rekan kerja, resepsionis, dan tentu saja atasan. Jadi jika ada kesempatan promosi, nama Anda otomatis akan langsung teringat oleh atasan.

Tidak punya prioritas

Tidak memiliki prioritas membuat Anda kebingunngan menyelesaikan pekerjaan yang jadi tanggung jawab Anda. Bisa saja Anda stres karena tak tahu mana yang akan dikerjakan terlebih dahulu. Akibatnya, pekerjaan dikerjakan saat deadline sudah mencekik dan hasilnya tentu saja menjadi tidak optimal. Cobalah buat daftar hal yang harus Anda kerjakan, mulai yang terpenting sampai yang tidak terlalu penting. Kerjakan dulu satu pekerjaan hingga selesai, setelah itu baru kerjakan pekerjaan berikutnya.

Pelupa

Lupa akan suatu hal adalah hal kecil, tapi jika Anda selalu lupa pada nama klien atau bahkan lupa pada pekerjaan yang harus Anda kerjakan hari ini, tentu saja ini akan memperburuk citra Anda di mata atasan. Jadi ada baiknya catat di agenda, tempel kertas di komputer, atau catat di PDA Anda secara detail, hal apa yang harus Anda lakukan, termasuk nama, nomor telepon, kepentingan menelepon orang tersebut, dan jam berapa Anda harus meneleponnya.

Sumber : okezone.com