Fatwa Haram Rokok, MUI Abaikan Nasib Buruh ?

KUDUS – Rencana Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kudus mengeluarkan fatwa haram merokok menuai berbagai tanggapan. MUI dituding tidak memperhatikan nasib orang yang mencari sesuap nasi dari tembakau, seperti buruh pabrik rokok.

“Dalam memandang dampak sosial rokok, buruh harus ditempatkan dalam perspektif korban. Buruh adalah kelompok yang sangat rawan terhadap kebijakan pembatasan rokok. Atas dasar itulah, selain memerhatikan kepentingan anak dan ibu hamil, nasib buruh juga perlu diperhatikan,” kata Direktur Eksekutif Institute for Social and Economic Studies (ISES) Indonesia Hasan Aoni Aziz US, Rabu (21/1/2009).

Dia menambahkan, orientasi industri rokok dirancang dalam tiga konsentrasi. Untuk periode 2007-2010 terkonsentrasi untuk kepentingan pendapatan (pro income), 2010-2015 untuk tenaga kerja (pro job), dan 2015-2020 untuk kepentingan kesehatan (pro health).

Dalam implementasi pro income, berdasarkan data PPRK sejak 2005-2008, Kudus telah menyumbang cukai rokok rata-rata 26,12 persen dari total pendapatan cukai rokok nasional. Pada 2008, setoran cukai Kudus mencapai Rp11 triliun atau 20 persen penerimaan negara atas rokok yang mencapai Rp50 triliun. Pendapatan cukai nasional itu setara 5 persen APBN 2008 yang mencapai Rp1.000 triliun.

Dari setoran sebesar itu, sebagian dikembalikan kepada daerah penghasil cukai rokok dalam bentuk Dana Bagi Hasil (DBH). DBH tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan, salah satunya mempersiapkan industri rokok dan masyarakat menghadapi deindustrialisasi rokok.

“Jika fatwa haram jadi diputuskan, maka MUI telah melakukan percepatan melampaui peta jalan industri rokok yang sudah dirancang pemerintah,” tambahnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua PC Nahdlatul Ulama Kudus M Chusnan menyatakan, hukum rokok sesuai asalnya adalah mubah. Hukum haram hanya diterapkan terhadap orang-orang tertentu yang memang tidak diperbolehkan merokok.

“Bagi orang yang sakit, tentunya dilarang atau diharamkan mengkonsumsi makanan tertentu. Tapi makanan itu sendiri sebenarnya tetap diperbolehkan untuk dikonsumsi,” pungkasnya.

Sumber : okezone.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: